Target Sensitifitas ECVT 1altoFarad, Paling Sensitif di Dunia

    Bangkok – C-Tech Labs kembali presentasikan Data Aquisition System (DAS) ECVT dalam IEEE TENCON 2014 di Hotel Shangrila, Bangkok (22-25/10). Diwakili oleh Arbai Yusuf dan Imamul Muttakin, teknologi buatan Indonesia ini menjadi satu-satunya hardware di dunia yang dirancang khusus untuk aplikasi tomografi kapasitansi empat dimensi.

    Picture1

    TENCON adalah konferensi teknis internasional utama yang diselenggarakan oleh IEEE Region 10 (Asia Pasifik), salah satu organisasi regional terbesar yang dimiliki oleh IEEE. Diadakan setiap tahun sejak tahun 1980, TENCON menjadi forum penting bagi para peneliti dan teknolog dari bidang industri, bersama profesor dan mahasiswa pascasarjana dari bidang akademisi untuk membangun jejaring dan mendiskusikan ide-ide pengembangan baru di bidang teknik elektro dan elektronik, ilmu komputer dan bidang terkait. Diselenggarakan di pusat Kota Bangkok, konferensi ini dihadiri lebih dari 500 peserta dari negara-negara Asia Pasifik seperti Thailand, Vietnam, Cina, Jepang, India, Korea Selatan, Hongkong, Indonesia, Philipines, Malaysia, Singapore, dan negara tetangga lainnya.

    tencon3    tencon1

     Dalam konferensi tersebut, Arbai dan Imamul memaparkan karya ilmiah berjudul “Single Signal Conditioning Multi Electrode for ECVT Data Acquisition System (DAS)”. DAS ECVT merupakan bagian elektronik teknologi ECVT yang berfungsi mengukur, mengumpulkan, mengonversi, dan mengontrol proses pengambilan data dari sensor ECVT hingga dikirim ke PC. Mereka memperkenalkan metode baru berupa analog processing ECVT yang menggunakan satu sinyal conditioning untuk mengakomodasi seluruh elektroda ECVT.

    tencon2“Dalam eksperimen ini kami menggunakan sensor setengah bola dengan jumlah channel sebanyak 24 buah. Dalam mengakomodasi ke 32 elektroda, kami menggunakan analog switch yang mempunyai spesifikasi khusus (Ron 3.6 ohm dan C kopling 37pF), dan kami menggunakan kapasitor 1 pF hingga 100 pF untuk mengukur kelinieritasan sistem serta hasilnya kami dibandingkan dengan LCR meter. Sedangkan untuk eksperimen rekonstruksi citra, kami menggunakan phantom yang terbuat dari parafin dan gliserin yang mampu merekonstruksi citra dengan cukup bagus. Sistem tersebut mampu mengukur kapasitansi dibawah 1fF dengan sensitivitas 0.22 V/pF dengan resolusi 0.005 fF, error 1.7%, standar deviasi 0.85 fF, dan SNR 48.5 dB,” terang Arbai kepada seluruh peserta konferensi.

    Konferensi ini juga menggelar empat keynote lectures dan tiga tutorial. Keynote lectures yang disampaikan antara lain: “Single Cell Analysis and Assembly by Micro and Nano Robotics System” oleh Prof Toshio Fukuda (Nagoya University, Japan); “Second Generation Current Conveyors with Bio-inspired Applications” oleh Prof Wanlop Surakampontorn (Thailand Advanced Institute of Science and Technology); “Engineering Challenges for Wireless Technologies in Next Generation Medical Implant Devices” oleh Prof Eryk Dutkiewicz (Macquarie University, Australia); serta “High-performance Integrated Circuits for Environmental and Biomedical Applications” oleh Prof M. Jamal Deen (McMaster University, Canada). Sedangkan sesi tutorial digelar dengan tema-tema berikut: “Optical Wireless Communications: Challenges and Perspectives” oleh Dr. Anh T. Pham (University of Aizu, Japan); “The language of lighting design” oleh Dr. Chanyaporn Chuntamara (King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Thailand); dan “Principle of Quantum Communication” oleh Dr. Suwit Kiravittaya (Naresuan University, Thailand).