Sinergi Tingkatkan Keberterimaan Hasil Penelitian Peralatan Elektronmedik

    TANGERANG – Kebutuhan akan peralatan kesehatan di Indonesia meningkat seiring dengan diluncurkannya program pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih meluas secara adil dan merata. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa hingga saat ini produk alat kesehatan yang beredar di Indonesia didominasi oleh produk impor sebanyak 95,13% dari produk beredar. Dalam kerangka itu, pemerintah bersama akademisi dan industri melakukan langkah-langkah strategis untuk mengurangi dominasi impor di bidang peralatan kesehatan, seperti dibahas dalam seminar dan bincang bersama “Peningkatan Keberterimaan Hasil Penelitian Peralatan Elektromedik”, Kamis (28/05), yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Graha Widya Bhakti Puspiptek.

    IMG-20150602-WA0010

    Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan produk peralatan kesehatan agar dapat diterima konsumen adalah pemenuhan terhadap performa, yang merupakan kriteria esensial dari kualitas suatu peralatan kesehatan. Termasuk diantaranya kriteria keselamatan, yang merupakan faktor dalam menentukan kelayakan dan keberterimaan peralatan kesehatan.Mengacu pada standar IEC 60601 edisi ke-3, penilaian kualitas suatu peralatan kesehatan tidak lagi hanya menjadi hasil kerja laboratorium pengujian semata, melainkan menjadi hasil kerja sama antara laboratorium pengujian dengan produsen.

    IMG-20150602-WA0011

    Fatimah Zulfah Padmadinata, Peneliti Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (P2SMTP) LIPI melalui surat elektronik menjelaskan bahwa performa dan keselamatan produk tidak terlepas dari kegiatan riset dan teknologi. “Untuk peralatan kesehatan yang masih dalam proses riset dan belum memiliki riwayat panjang dalam pengembangannya, penyusunan dokumen manajemen resiko menjadi beban tersendiri bagi periset peralatan kesehatan tersebut. Untuk pada akhirnya hasil riset dapat diterima oleh industri dan kemudian dikomersialisasi, akan sangat membantu bila penilaian kesesuaian peralatan kesehatan dimulai sejak dalam proses riset,” jelasnya.

    IMG-20150602-WA0012

    Seminar dihadiri oleh kelompok periset dan akademisi di bidang instrumen peralatan kesehatan dan pengembangan sistem pengujian, industri pengembang produk kesehatan, dan pemerintah yang berasal dari Kementerian Keseharan, Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi, dan Kementerian Perindustrian. Dr. Warsito Purwo Taruno, M. Eng, penemu sekaligus pengembang alat pemindai aktivitas sel kanker dan kelainan otak dengan gelombang listrik rendah maksimum 14 volt, menjelaskan bahwa perlu adanya kejelasan pedoman dalam penelitian dan pengembangan alat kesehatan. “ Bagi kami yang paling penting adalah kejelasan aturan dan pedoman agar yang kami lakukan selama ini dapat dimanfaatkan lebih luas. Kami sebagai peneliti perlu mengabarkan bahwa hasil penelitian bukan sebuah kebohongan dan masyarakat berhak untuk mengakses hasil penelitian kami.” Alatnya yang dinamai Electro Capacitance Volume Tomography (ECVT) mampu memindai aktivitas sel kanker dan kelainan otak dalam waktu kurang dari dua detik dengan hasil pencitraan empat dimensi.

    Ismiyati, S.Si, Apt, M.Si, Kepala Seksi Standardisasi Produk, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan, menjelaskan bahwa porsi produksi alat kesehatan dalam negeri yang dimanfaatkan oleh konsumen masih sangat rendah. “Ketergantungan impor Indonesia sanagt tinggi, bukan ganya alat kesehatan, namun obat-obatan juga sama,” ungkapnya. Ia menambahkan jika ketergantungan impor masing tinggi adalah tugas besar Kementerian Kesehatan dan kementerian terkait untuk menyelesaikannya.

    Pemberiaan pemahaman mengenai pentingnya sinergi akademisi, terutama antara laboratorium penelitian baik di lingkungan perguruan tinggi, swasta dan laboratorium penelitian di lingkungan LPNK dalam kerangka kerja sama penelitian untuk menghasilkan teknologi peralatan kesehatan yang memenuhi persyaratan standar, terutama keselamatan dan fungsi sanagt penting di lakukan. Pembuatan peraturan dan pedoman yang jelas dalam pengembangan alat kesehatan juga perlu dipikirkan segera agar produksi dalam negeri setidaknya dapat lebih banyak menopang kebutuhan sendiri. (DWH)