Jepang Gunakan Terapi Kanker CTech Labs

    TANGERANG—Setelah menjalin kerjasama dengan jaringan Weber Medical milik Dr Mikhael Weber dan Prof Gerhard Litscher dari Graz University of Medicine, Austria pada akhir Juni lalu, CTech Labs Edwar Technology, kembali menjalin kerjasama penerapan Metode Electro Capacitive Cancer Therapy (ECCT) di jaringan klinik yang dikelola Dr. Toshio Inui, Saisei Mirai Clinics, Jepang.

    ‘’Ini kelanjutan dari pertemuan di forum International Society of Laser Applications (ISLA) di Beverungen, Jerman, akhir Juni lalu. Pihak Saisei Mirai Clinics meminta izin kami menggunakan alat-alat terapi buatan CTech Labs untuk dipakai pasien mereka,’’ ujar penemu ECCT sekaligus pendiri Edwar Technology Dr. Warsito P. Taruno, Jum’at (3/10) di kantornya, Tangerang.

    dr_inui2Menurut Warsito, jaringan Saisei Mirai Clinics tersebar di beberapa kota besar Jepang seperti Tokyo, Osaka, Kyoto dan Keihan. Dengan fokus pada penanganan kanker, Saisei Mirai Clinics menjadi mitra CTech Labs di wilayah Asia Timur dalam memperkenalkan teknologi ECCT tersebut.

    “ECCT adalah metode terapi kanker dengan prinsip pemberian medan listrik statis dari luar terhadap tubuh pasien yang mengidap kanker yang dengan medan listrik itu membuat sifat kelistrikan sel kanker yang meningkat tinggi saat sel membelah terganggu sehingga sel kanker gagal membelah dan mati,” jelas Dr. Warsito dalam siaran persnya.

    Lebih lanjut Warsito mengungkapkan, sama dengan pihak lainnya, kerjasama dengan Saisei Mirai Clinics ini meliputi riset, edukasi dan pengembangan produk serta penyebaran pengetahuan penyembuhan kanker dengan terapi listrik statis. Kerjasama ini mendasari kemitraan jangka panjang dan menyediakan akses untuk aplikasi riset secara luas.

    “Kerjasama riset kami sejalan dengan visi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yang mendorong pelaku riset untuk melakukan riset-riset berorientasi produk dalam rangka kemandirian bangsa,” tegas Warsito.

    Warsito menambahkan dengan captive market sekitar Rp 4 triliun per tahun, 95% produk alat kesehatan yang beredar di Indonesia adalah produk impor. Oleh karenanya, ia berharap dalam pengobatan kanker, ketergantungan pada peralatan impor dapat dikurangi melalui produk yang dikembangkan pusat risetnya, CTech Labs yang ada di Tangerang tersebut.

    sponsor1Ia pun mendorong ilmuwan dan peneliti Indonesia untuk melakukan re-orientasi riset karena hingga kini riset yang berorientasi kepada produk dan mampu membangkitkan kemandirian ekonomi bangsa masih sedikit. Selain itu, ia pun berharap pemerintah lebih memberi perhatian kepada riset-riset jenis ini, baik yang dilakukan oleh lembaga riset pemerintah, perguruan tinggi maupun swasta sehingga mendorong percepatan laju ekonomi.

    ‘’Saya menunggu janji presiden terpilih Pak Jokowi yang mengatakan akan meningkatkan dana riset saat memerintah. Juga akan menata riset sehingga benar-benar terasa manfaatnya kepada masyarakat. Mudah-mudahan janji itu ditepati karena sudah terlalu lama peneliti kita mengeluhkan hal ini,’’ pungkas Warsito yang juga ketua umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) ini.

    Dalam kesempatan menjadi pembicara kunci pada Kuliah Umum dan Seminar dengan tema Menyambut Penguatan Lembaga Riset dalam kebijakan Pemerintah dan Pembangunan Nasional di LIPI, beberapa waktu lalu, Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) mengatakan hasil lembaga riset Indonesia harus memberikan manfaat yang besar dan sebagai kegiatan yang berguna untuk masyarakat.

    Rencananya pemerintah baru akan memberikan anggaran yang besar guna menunjang riset sehingga akan menghasilkan hasil penelitian yang bermanfaat untuk Indonesia dan masyarakat.
    “Maunya kita kasih dana yang besar, tapi jumlah besar dananya belum bisa disampaikan, tidak selalu anggaran besar bisa memberikan manfaat yang besar,” kata Jokowi saat itu. *****