Dokter Bedah Saraf Tertarik Meneliti ECVT

    Rizki Edmi Edison lahir di Padang, 7 Desember 1984, dibesarkan dikeluarga yang sederhana dan berlatar belakang akademis. Anak ke pertama dari tiga bersaudara ini merupakan putra dari Profesor Edison Munaf dan Profesor Rahmania Zein. Menikah pada tahun 2012 dengan Dokter Rahimi Syaidah dan telah dikarunai satu orang putri bernama Ranayuki Mikhaila Edmi.

    Dokter Edmi menyelesaikan Pendidikan dokter di Universitas Andalas di kota Padang pada tahun 2010. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter, beliau melanjutkan pendidikan doktoral di bidang bedah saraf di Departemen Bedah Saraf Jichi Medical University Jepang hinga tahun 2014. Penelitiannya difokuskan pada pencitraan otak yang merupakan pemeriksaan penunjang sangat krusial untuk kasus-kasus bedah saraf. Sembari melakukan riset, beliaupun ikut serta sebagai tim dokter yang bertugas melaksanakan dan memimpin operasi di sana. Selain itu beliau diamanahi menjadi Asisten Riset Departemen Bedah Saraf Jichi Medical University, tahun 2011-2013. Beliau mulai bergabung dengan Ctechlabs pada awal tahun 2014 untuk meneliti tentang ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography)Brain Scanning.

    Rizki Edmi EdisonECVT adalah salah satu modalitas tomografi nonlinier berbasis pengukuran kapasitansi listrik, yang dikenal Electrical Capacitance Tomography, telah disempurnakan dan dievolusi sehingga mampu merekonstruksi komposisi melintang secara 4D suatu volume objek oleh orang Indonesia. Pada tahun 2007, teknik ini dipatenkan dandinamai Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). ECVT bersifat nonlinier, tidak beradiasi dan berbasis soft-computing sehingga dapat mudah diaplikasikan pada berbagai bidang.

    Menurutnya ECVT menawarkan konsep baru dalam pencitraan otak, di mana pencitraan tersebut berbasis kapasitansi elektrik dan tidak bersifat infasif. Selain itu, beliau juga berpendapat bahwa ECVT memiliki berbagai kelebihan dibanding instrument pencitraan otak yang telah ada hingga saat ini, seperti SPECT, PET, dan sebagainya. Kelebihan tersebut antara lain, ECVT bersifat mudah dibawa, tidak memancarkan radiasi dan murah. Selain itu, teknologi ECVT juga mampu menghasilkan gambar berbentuk 3 dimensi secara real-time.

    Berdasarkan pengalaman beliau memeriksa pasien-pasien yang didiagnosis mengidap tumor otak, dibutuhkan waktu bertahun-tahun sejak seorang pasien mengeluh pusing dan sakit kepala berulang hingga akhirnya diketahui adanya tumor otak setelah dilakukan pemeriksaan CT Scan atau MRI di rumah sakit. Hal ini tentu menjadi hal yang patut diperhatikan. Selain besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien untuk membeli obat pereda rasa sakit selama bertahun-tahun, ukuran tumor yang begitu besar akan memberi kesulitan tersendiri baik bagi dokter yang menangani maupun pasien itu sendiri. Oleh sebab itu, perlu dipikirkan suatu cara baru untuk bisa mendeteksi adanya tumor otak secara cepat namun dengan biaya murah. Dokter Edmi berkeyakinan bahwa ECVT bisa menjadi jawaban untuk masalah ini. Harapan beliau, teknologi ECVT bisa diterapkan di pusat pelayanan primer di seluruh Indonesia.

    Pria yang memiliki hobi membaca buku ini juga aktif di berbagai bidang organisasi, beliau pernah menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Perfectur Tochigi, Jepang, Tahun 2012, serta pernah aktif di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sebagai Ketua Bidang Internal Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Tahun 2005 – 2006. Saat ini beliau juga tergabung di Badan Nerosains Muhammadiyah sebagai angota Dewan Riset. Tidak hanya dibidang organisasi, beliau pun aktif berperan serta dalam beragam seminar ilmiah, seperti menjadi keynote speaker pada 2nd International Young Scientist Conference on Analytical Sciences di Indonesia pada September 2013.